Taylor Swift - Love Story lyrics We were both young when I first saw you I close my eyes And the flashback starts I\'m standing there On a balcony in summer air See the lights See the party, the ball gowns I see you make your way through the crowd And say hello, little did I know That you were Romeo, you were throwing pebbles And my daddy said stay away from Juliet And I was crying on the staircase Begging you please don\'t go, and I said Romeo take me somewhere we can be alone I\'ll be waiting all there\'s left to do is run You\'ll be the prince and I\'ll be the princess It\'s a love story baby just say yes So I sneak out to the garden to see you We keep quiet \'cause we\'re dead if they knew So close your eyes Escape this town for a little while \'Cause you were Romeo, I was a scarlet letter And my daddy said stay away from Juliet But you were everything to me I was begging you please don\'t go and I said Romeo take me somewhere we can be alone I\'ll be waiting all there\'s left to do is run You\'ll be the prince and I\'ll be the princess It\'s a love story baby just say yes Romeo save me, they try to tell me how to feel This love is difficult, but it\'s real Don\'t be afraid, we\'ll make it out of this mess It\'s a love story baby just say yes Oh oh I got tired of waiting Wondering if you were ever coming around My faith in you is fading When I met you on the outskirts of town, and I said Romeo save me I\'ve been feeling so alone I keep waiting for you but you never come Is this in my head? I don\'t know what to think He knelt to the ground and pulled out a ring And said, marry me Juliet You\'ll never have to be alone I love you and that\'s all I really know I talked to your dad, go pick out a white dress It\'s a love story baby just say yes Oh, oh, oh, oh \'Cause we were both young when I first saw you Lyrics | Taylor Swift lyrics - Love Story lyrics
Taylor Swift – Love Story Friday, 27 February 2009
Midnight in Garden of Good and Evil Monday, 12 January 2009
Midnight in the Garden of Good and Evil by John Berendt
My review
rating: 5 of 5 stars
Keren!!!!!
Baru kali ini saya baca novel non-fiksi seadiktif dan serame ini. Selama delapan tahun observasinya di Savannah, John Berendt berhasil memancing semua keabnormalan, kehebohan, dan hal-hal yang tidak terduga dari tetangga-tetangganya. Bandingkan dengan saya : 21 tahun tinggal di rumah yang sama saya hampir tidak tahu menahu skandal apa saja yang terjadi di sekitar lingkungan saya (paling yang tahu cuman segelintir tukang sayur dan daging yang kebetulan gerobaknya adalah tempat populer untuk ibu2 bertukar gosip). Ini membuktikan bahwa John Berendt adalah reporter yang hebat.
Buku ini bagus, renyah, mengejutkan, pokoknya layak dibaca deh..
Cloud Atlas Wednesday, 17 September 2008
Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. “Cloud Atlas”. Gimana… gitu. Ternyata sodara-sodara : “judge a book by it’s title once in a while, and you won’t be dissapointed”. Buku ini cukup amat bagus! Jalan ceritanya pun unik. Mau tau kelanjutannya? Eits hati hati. Hey hey hey, di sini ada spoilernya. Kontinyu with yor own risk.
Buku ini dirajut dari enam buah cerita yang kesemuanya, dengan satu dan lain cara, senantiasa berhubungan. Yang unik dari jalinan cerita ini adalah struktur novel menyajikan cerita yang terputus dan ditimpa oleh cerita lainnya. Jadi, sebelum cerita pertama berakhir, sudah muncul cerita kedua, dan seterusnya. Sebagaimana telah disebut : setiap cerita senantiasa berhubungan; jadi, cerita pertama muncul dalam cerita kedua dalam bentuk sebuah jurnal yang diterbitkan, cerita kedua muncul dalam cerita pertama sebagai kumpulan surat menyurat yang disimpan oleh salah satu tokohnya, demikian seterusnya. Biar gak bingung, langsung aja diterangin satu per satu ceritanya:
Pada awal buku ini kita akan bertemu dengan Adam Ewing. Suara Adam Ewing ini diutarakan melalui jurnal hariannya saat berlayar di lautan Pacific sekitar tahun 1800-an : “The Pacific Journal of Adam Ewing”. Adam Ewing adalah seorang notaris yang berlayar ke New Zealand dan singgah di sebuah pulau di mana dia menyaksikan perbudakan dan penyiksaan. Adam juga akhirnya terlibat dalam sebuah rencana untuk menyelamatkan budak yang akan dibunuh dengan cara menyelundupkannya di dalam perahu yang ditumpanginya. Bersama Adam menumpang di kapal yang sama adalah Dr. Goose, dokter yang dikonsultasi oleh Adam mengenai penyakit misterius yang dideritanya. Jurnal Adam juga dipenuhi komentar pribadinya tentang perbudakan dan penyiksaan yang terjadi, tentang fitrah manusia (yang ternyata menjadi tema novel ini), serta perasaan-perasaan pribadinya terhadap persamaan manusia (yang membuatnya mau menolong budak yang kabur tersebut)
Namun, sebelum pusaran cerita Adam memberikan kesimpulan dan akhir, narasi tiba-tiba terhenti dan masuk ke cerita kedua : “Letters from Zedelghem”, cerita tentang musisi Inggris Robert Frobisher yang berupaya untuk menjadi asisten komposer Inggris terkenal yang tinggal di Belgia : Vyvyan Ars. Cerita bertanggal 1930-an ini dibungkus dalam bentuk korespondensi Robert Frobisher dan sahabatnya (juga kekasihnya) : Ruffus Sixsmith. Robert Frobisher diceritakan berasal dari keluarga berpengaruh namun tidak menyetujui ambisi Robert untuk menjadi musisi. Tanpa bantuan dana dan bermodalkan nekat, Frobisher akhirnya berkelana ke Belgia dengan menipu hotel-hotel (menggunakan pengaruh nama keluarganya) dan berhutang (juga menggunakan pengaruh nama keluarganya). Frobisher si berandal akhirnya bertemu dengan Ars dan berhasil menjadi asistennya. Di sini (nah ini yang menarik) Frobisher menemukan buku berjudul The Pacific Journal of Adam Ewing yang diterbitkan oleh anak Adam Ewing. Namun (ini menarik juga), Frobisher menceritakan bahwa buku ini ternyata tidak komplit karena tersobek (sobek persis di halaman kita berhenti membaca Jurnal Adam Ewing). Ternyata keadaan tidak menjadi begitu mudah karena ternyata Frobisher terjebak cinta dengan istri Ars dan ternyata Ars adalah komposer arogan.
Sekali lagi, narasi terputus, dan berlanjut ke cerita ketiga : “Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery”. Pembaca akan berkenalan dengan Luisa Rey, reporter muda yang kebetulan bertemu dengan Ruffus Sixsmith (masih ingat?) saat lift mereka terjebak. Sixsmith, di tahun 1970-an, adalah profesor tua yang bekerja di sebuah pembangkit nuklir yang ternyata tidak mempunyai standar keamanan dan lingkungan. Pada Luisa, Sixmith menceritakan hal itu semua. Luisa kemudian menyelidiki hal ini, terutama setelah Sixsmith ditemukan tewas tidak wajar. Luisa kemudian mempertaruhkan nyawanya untuk menyingkap kebenaran tentang pembangkit nuklir tersebut dan kematian Sixsmith. Dari Sixsmith, di tempat rahasia yang dibertahukan olehnya, Luisa mendapatkan bukti untuk kasus ini dan (yak benar!) kumpulan surat dari Robert Frobisher. Cerita ini cukup seru dan menengangkan, sehingga ketika cerita ini berhenti di tengah-tengah, saya merasakan kebencian yang cukup mendalam terhadap pengarang. Tapi sementara, karena cerita keempat juga sangat menarik.
Cerita keempat adalah “The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish” : sebuah cerita tentang Timothy Cavendish, publisher kecil-kecilan yang terlibat masalah dengan pengarangnya setelah pengarang tersebut menerjunkan reviewer bukunya dari atap sebuah gedung karena ulasan reviewer itu dinilai menghina. Bagi Cavendish ini berbuah keuntungan, karena setelah kejadian itu, buku pengarang tersebut menjadi laku tapi, ketika kakaknya si pengarang, yang preman, menagih royalti. Cavendish tidak mempunyai uang dan terpaksa harus lari. Saudara Cavendish menawarkan sebuah jalan keluar yang segera disetujui Cavendish. Ternyata Cavendish, tanpa sepengetahuannya, didaftarkan ke sebuah panti jompo nan ketat yang disangkanya adalah sebuah hotel! Hahaha cerita ini memang rame, lucu, dan karakter Cavendish sangatlah unik sehingga sangat enak membaca cerita ini. O ya, dalam kaburnya, Cavendish tidak sengaja membawa sebuah draft novel yang minta diterbitkan : “Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery” karya Hilary V. Hush. Cerita keempat berakhir di tengah-tengah rencana Cavendish untuk kabur dari panti jompo ini.
The Orison of Somni~451 adalah benar-benar cerita yang menyentuh, menakjubkan, dan merupakan cerita favorit saya. Berlatarkan di zaman setelah perang nuklir di masa depan di sebuah benua Nea So Copros yang dulu bernama Korea, cerita ini berkisah tentang Somni~451, wanita hasil kloning yang dibuat untuk menjadi pelayan di sebuah restoran cepat saji Papa Song. Kehidupan sebagai hasil kloning diceritakan dengan jenius. Mereka, selain Somni~451 masih banyak pelayan kloning lain, dicuci otak untuk menganggap Papa Song (yang ternyata cuman karakter holografis) dan dijejali aturan-aturan yang memperbudak mereka.
Sloosa’s Crossing and Everything After adalah cerita penutup buku ini. Kurun waktunya adalah sekian tahun setelah zaman Sonmi di mana manusia sudah tinggal sedikit dan kembali ke perabadaban primitif. Dalam cerita ini Somni muncul kembali sebagai dewi yang dipuja oleh bangsa ini.
Ketika kita membaca cerita ini satu per satu sampai selesai, mungkin kesannya tidak akan sama dengan ketika kita membaca buku ini sesuai urutan yang disajikan pengarang : 12345654321. Kesan yang lain adalah betapa kehidupan manusia bisa saling bersinggungan satu sama lain walaupun terpaut jarak dan zaman. Satu kalimat yang benar-benar membuat saya kagum adalah : “soul cross ages like cloud cross skies”. Terlihat betapa manusia bisa berbeda-beda tapi esensinya adalah sama, seperti awan yang punya bentuk bermacam macam tapi sejatinya adalah uap air. Sungguh buku ini benar-benar menyentuh saya dan sangat dianjurkan untuk dibaca.
Yesterday Once More Thursday, 24 July 2008
When I was young
I’d listen to the radio
Waitin’ for my favorite songs
When they played I’d sing along
It made me smile
Those were such happy times
And not so long ago
How I wondered where they’d gone
But they’re back again
Just like a long lost friend
All the songs I loved so well
Every sha-la-la-la
Every wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine
When they get to the part
Where he’s breakin’ her heart
It can really make me cry
Just like before
It’s yesterday once more
Lookin’ back on
How it was in years gone by
And the good times that I had
Makes today seem rather sad
So much has changed
It was songs of love
That I would sing to then
And I’d memorize each word
Those old melodies
Still sound so good to me
As they melt the years away
Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine
All my best memories
Come back clearly to me
Some can even make me cry
Just like before
It’s yesterday once more
Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine
Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine
By : Carpenters
Lagu ini KEREN banget!!