A life wonderfully boring (teruntuk istriku lima puluh tahun lagi)

Winter bliss, summer kisses
Those rainbows and sunsets we watch from the window frame
Laundry blues, kitchen bruises
Those cabinets of cutlery and spices I hardly know the name

Come, sit here and watch TV
those sitcoms we pretend to know the story
Half-hours of small nods and big laughs
Oblivious of the short time we have

You made me change the diapers and do the dishes
Under threat of having dinner with just broccolies
But those nudges on after-dawn mornings
Gentle kisses on after-office evenings
Say much more of love than Meg Ryan movies
Promise more happiness than the genie’s three wishes

Such a smile you had, such lips, such eyes
Such a tender hand, such ears, such kiss
Such complex PMS, such scary child-birth screams
Such pretty now-wrinkled face, such silken gray-hairs

For fifty years of this life I’m living
this much is a simple truth:
never a second I mind sharing
with you, a life wonderfully boring

Taylor Swift – Love Story

Taylor Swift - Love Story lyrics

We were both young when I first saw you
I close my eyes
And the flashback starts
I\'m standing there
On a balcony in summer air

See the lights
See the party, the ball gowns
I see you make your way through the crowd
And say hello, little did I know

That you were Romeo, you were throwing pebbles
And my daddy said stay away from Juliet
And I was crying on the staircase
Begging you please don\'t go, and I said

Romeo take me somewhere we can be alone
I\'ll be waiting all there\'s left to do is run
You\'ll be the prince and I\'ll be the princess
It\'s a love story baby just say yes

So I sneak out to the garden to see you
We keep quiet \'cause we\'re dead if they knew
So close your eyes
Escape this town for a little while

\'Cause you were Romeo, I was a scarlet letter
And my daddy said stay away from Juliet
But you were everything to me
I was begging you please don\'t go and I said

Romeo take me somewhere we can be alone
I\'ll be waiting all there\'s left to do is run
You\'ll be the prince and I\'ll be the princess
It\'s a love story baby just say yes

Romeo save me, they try to tell me how to feel
This love is difficult, but it\'s real
Don\'t be afraid, we\'ll make it out of this mess
It\'s a love story baby just say yes
Oh oh

I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around
My faith in you is fading
When I met you on the outskirts of town, and I said

Romeo save me I\'ve been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
Is this in my head? I don\'t know what to think
He knelt to the ground and pulled out a ring

And said, marry me Juliet
You\'ll never have to be alone
I love you and that\'s all I really know
I talked to your dad, go pick out a white dress
It\'s a love story baby just say yes

Oh, oh, oh, oh
\'Cause we were both young when I first saw you

Lyrics | Taylor Swift lyrics - Love Story lyrics

Midnight in Garden of Good and Evil

Midnight in the Garden of Good and Evil Midnight in the Garden of Good and Evil by John Berendt


My review


rating: 5 of 5 stars
Keren!!!!!

Baru kali ini saya baca novel non-fiksi seadiktif dan serame ini. Selama delapan tahun observasinya di Savannah, John Berendt berhasil memancing semua keabnormalan, kehebohan, dan hal-hal yang tidak terduga dari tetangga-tetangganya. Bandingkan dengan saya : 21 tahun tinggal di rumah yang sama saya hampir tidak tahu menahu skandal apa saja yang terjadi di sekitar lingkungan saya (paling yang tahu cuman segelintir tukang sayur dan daging yang kebetulan gerobaknya adalah tempat populer untuk ibu2 bertukar gosip). Ini membuktikan bahwa John Berendt adalah reporter yang hebat.

Buku ini bagus, renyah, mengejutkan, pokoknya layak dibaca deh..

View all my reviews.

Cloud Atlas

Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. “Cloud Atlas”. Gimana… gitu. Ternyata sodara-sodara : “judge a book by it’s title once in a while, and you won’t be dissapointed”. Buku ini cukup amat bagus! Jalan ceritanya pun unik. Mau tau kelanjutannya? Eits hati hati. Hey hey hey, di sini ada spoilernya. Kontinyu with yor own risk.

Buku ini dirajut dari enam buah cerita yang kesemuanya, dengan satu dan lain cara, senantiasa berhubungan. Yang unik dari jalinan cerita ini adalah struktur novel menyajikan cerita yang terputus dan ditimpa oleh cerita lainnya. Jadi, sebelum cerita pertama berakhir, sudah muncul cerita kedua, dan seterusnya. Sebagaimana telah disebut : setiap cerita senantiasa berhubungan; jadi, cerita pertama muncul dalam cerita kedua dalam bentuk sebuah jurnal yang diterbitkan, cerita kedua muncul dalam cerita pertama sebagai kumpulan surat menyurat yang disimpan oleh salah satu tokohnya, demikian seterusnya. Biar gak bingung, langsung aja diterangin satu per satu ceritanya:

Pada awal buku ini kita akan bertemu dengan Adam Ewing. Suara Adam Ewing ini diutarakan melalui jurnal hariannya saat berlayar di lautan Pacific sekitar tahun 1800-an : “The Pacific Journal of Adam Ewing”. Adam Ewing adalah seorang notaris yang berlayar ke New Zealand dan singgah di sebuah pulau di mana dia menyaksikan perbudakan dan penyiksaan. Adam juga akhirnya terlibat dalam sebuah rencana untuk menyelamatkan budak yang akan dibunuh dengan cara menyelundupkannya di dalam perahu yang ditumpanginya. Bersama Adam menumpang di kapal yang sama adalah Dr. Goose, dokter yang dikonsultasi oleh Adam mengenai penyakit misterius yang dideritanya. Jurnal Adam juga dipenuhi komentar pribadinya tentang perbudakan dan penyiksaan yang terjadi, tentang fitrah manusia (yang ternyata menjadi tema novel ini), serta perasaan-perasaan pribadinya terhadap persamaan manusia (yang membuatnya mau menolong budak yang kabur tersebut)

Namun, sebelum pusaran cerita Adam memberikan kesimpulan dan akhir, narasi tiba-tiba terhenti dan masuk ke cerita kedua : “Letters from Zedelghem”, cerita tentang musisi Inggris Robert Frobisher yang berupaya untuk menjadi asisten komposer Inggris terkenal yang tinggal di Belgia : Vyvyan Ars. Cerita bertanggal 1930-an ini dibungkus dalam bentuk korespondensi Robert Frobisher dan sahabatnya (juga kekasihnya) : Ruffus Sixsmith. Robert Frobisher diceritakan berasal dari keluarga berpengaruh namun tidak menyetujui ambisi Robert untuk menjadi musisi. Tanpa bantuan dana dan bermodalkan nekat, Frobisher akhirnya berkelana ke Belgia dengan menipu hotel-hotel (menggunakan pengaruh nama keluarganya) dan berhutang (juga menggunakan pengaruh nama keluarganya). Frobisher si berandal akhirnya bertemu dengan Ars dan berhasil menjadi asistennya. Di sini (nah ini yang menarik) Frobisher menemukan buku berjudul The Pacific Journal of Adam Ewing yang diterbitkan oleh anak Adam Ewing. Namun (ini menarik juga), Frobisher menceritakan bahwa buku ini ternyata tidak komplit karena tersobek (sobek persis di halaman kita berhenti membaca Jurnal Adam Ewing). Ternyata keadaan tidak menjadi begitu mudah karena ternyata Frobisher terjebak cinta dengan istri Ars dan ternyata Ars adalah komposer arogan.

Sekali lagi, narasi terputus, dan berlanjut ke cerita ketiga : “Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery”. Pembaca akan berkenalan dengan Luisa Rey, reporter muda yang kebetulan bertemu dengan Ruffus Sixsmith (masih ingat?) saat lift mereka terjebak. Sixsmith, di tahun 1970-an, adalah profesor tua yang bekerja di sebuah pembangkit nuklir yang ternyata tidak mempunyai standar keamanan dan lingkungan. Pada Luisa, Sixmith menceritakan hal itu semua. Luisa kemudian menyelidiki hal ini, terutama setelah Sixsmith ditemukan tewas tidak wajar. Luisa kemudian mempertaruhkan nyawanya untuk menyingkap kebenaran tentang pembangkit nuklir tersebut dan kematian Sixsmith. Dari Sixsmith, di tempat rahasia yang dibertahukan olehnya, Luisa mendapatkan bukti untuk kasus ini dan (yak benar!) kumpulan surat dari Robert Frobisher. Cerita ini cukup seru dan menengangkan, sehingga ketika cerita ini berhenti di tengah-tengah, saya merasakan kebencian yang cukup mendalam terhadap pengarang. Tapi sementara, karena cerita keempat juga sangat menarik.

Cerita keempat adalah “The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish” : sebuah cerita tentang Timothy Cavendish, publisher kecil-kecilan yang terlibat masalah dengan pengarangnya setelah pengarang tersebut menerjunkan reviewer bukunya dari atap sebuah gedung karena ulasan reviewer itu dinilai menghina. Bagi Cavendish ini berbuah keuntungan, karena setelah kejadian itu, buku pengarang tersebut menjadi laku tapi, ketika kakaknya si pengarang, yang preman, menagih royalti. Cavendish tidak mempunyai uang dan terpaksa harus lari. Saudara Cavendish menawarkan sebuah jalan keluar yang segera disetujui Cavendish. Ternyata Cavendish, tanpa sepengetahuannya, didaftarkan ke sebuah panti jompo nan ketat yang disangkanya adalah sebuah hotel! Hahaha cerita ini memang rame, lucu, dan karakter Cavendish sangatlah unik sehingga sangat enak membaca cerita ini. O ya, dalam kaburnya, Cavendish tidak sengaja membawa sebuah draft novel yang minta diterbitkan : “Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery” karya Hilary V. Hush. Cerita keempat berakhir di tengah-tengah rencana Cavendish untuk kabur dari panti jompo ini.

The Orison of Somni~451 adalah benar-benar cerita yang menyentuh, menakjubkan, dan merupakan cerita favorit saya. Berlatarkan di zaman setelah perang nuklir di masa depan di sebuah benua Nea So Copros yang dulu bernama Korea, cerita ini berkisah tentang Somni~451, wanita hasil kloning yang dibuat untuk menjadi pelayan di sebuah restoran cepat saji Papa Song. Kehidupan sebagai hasil kloning diceritakan dengan jenius. Mereka, selain Somni~451 masih banyak pelayan kloning lain, dicuci otak untuk menganggap Papa Song (yang ternyata cuman karakter holografis) dan dijejali aturan-aturan yang memperbudak mereka.

Sloosa’s Crossing and Everything After adalah cerita penutup buku ini. Kurun waktunya adalah sekian tahun setelah zaman Sonmi di mana manusia sudah tinggal sedikit dan kembali ke perabadaban primitif. Dalam cerita ini Somni muncul kembali sebagai dewi yang dipuja oleh bangsa ini.

Ketika kita membaca cerita ini satu per satu sampai selesai, mungkin kesannya tidak akan sama dengan ketika kita membaca buku ini sesuai urutan yang disajikan pengarang : 12345654321. Kesan yang lain adalah betapa kehidupan manusia bisa saling bersinggungan satu sama lain walaupun terpaut jarak dan zaman. Satu kalimat yang benar-benar membuat saya kagum adalah : “soul cross ages like cloud cross skies”. Terlihat betapa manusia bisa berbeda-beda tapi esensinya adalah sama, seperti awan yang punya bentuk bermacam macam tapi sejatinya adalah uap air. Sungguh buku ini benar-benar menyentuh saya dan sangat dianjurkan untuk dibaca.