Cloud Atlas

Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. “Cloud Atlas”. Gimana… gitu. Ternyata sodara-sodara : “judge a book by it’s title once in a while, and you won’t be dissapointed”. Buku ini cukup amat bagus! Jalan ceritanya pun unik. Mau tau kelanjutannya? Eits hati hati. Hey hey hey, di sini ada spoilernya. Kontinyu with yor own risk.

Buku ini dirajut dari enam buah cerita yang kesemuanya, dengan satu dan lain cara, senantiasa berhubungan. Yang unik dari jalinan cerita ini adalah struktur novel menyajikan cerita yang terputus dan ditimpa oleh cerita lainnya. Jadi, sebelum cerita pertama berakhir, sudah muncul cerita kedua, dan seterusnya. Sebagaimana telah disebut : setiap cerita senantiasa berhubungan; jadi, cerita pertama muncul dalam cerita kedua dalam bentuk sebuah jurnal yang diterbitkan, cerita kedua muncul dalam cerita pertama sebagai kumpulan surat menyurat yang disimpan oleh salah satu tokohnya, demikian seterusnya. Biar gak bingung, langsung aja diterangin satu per satu ceritanya:

Pada awal buku ini kita akan bertemu dengan Adam Ewing. Suara Adam Ewing ini diutarakan melalui jurnal hariannya saat berlayar di lautan Pacific sekitar tahun 1800-an : “The Pacific Journal of Adam Ewing”. Adam Ewing adalah seorang notaris yang berlayar ke New Zealand dan singgah di sebuah pulau di mana dia menyaksikan perbudakan dan penyiksaan. Adam juga akhirnya terlibat dalam sebuah rencana untuk menyelamatkan budak yang akan dibunuh dengan cara menyelundupkannya di dalam perahu yang ditumpanginya. Bersama Adam menumpang di kapal yang sama adalah Dr. Goose, dokter yang dikonsultasi oleh Adam mengenai penyakit misterius yang dideritanya. Jurnal Adam juga dipenuhi komentar pribadinya tentang perbudakan dan penyiksaan yang terjadi, tentang fitrah manusia (yang ternyata menjadi tema novel ini), serta perasaan-perasaan pribadinya terhadap persamaan manusia (yang membuatnya mau menolong budak yang kabur tersebut)

Namun, sebelum pusaran cerita Adam memberikan kesimpulan dan akhir, narasi tiba-tiba terhenti dan masuk ke cerita kedua : “Letters from Zedelghem”, cerita tentang musisi Inggris Robert Frobisher yang berupaya untuk menjadi asisten komposer Inggris terkenal yang tinggal di Belgia : Vyvyan Ars. Cerita bertanggal 1930-an ini dibungkus dalam bentuk korespondensi Robert Frobisher dan sahabatnya (juga kekasihnya) : Ruffus Sixsmith. Robert Frobisher diceritakan berasal dari keluarga berpengaruh namun tidak menyetujui ambisi Robert untuk menjadi musisi. Tanpa bantuan dana dan bermodalkan nekat, Frobisher akhirnya berkelana ke Belgia dengan menipu hotel-hotel (menggunakan pengaruh nama keluarganya) dan berhutang (juga menggunakan pengaruh nama keluarganya). Frobisher si berandal akhirnya bertemu dengan Ars dan berhasil menjadi asistennya. Di sini (nah ini yang menarik) Frobisher menemukan buku berjudul The Pacific Journal of Adam Ewing yang diterbitkan oleh anak Adam Ewing. Namun (ini menarik juga), Frobisher menceritakan bahwa buku ini ternyata tidak komplit karena tersobek (sobek persis di halaman kita berhenti membaca Jurnal Adam Ewing). Ternyata keadaan tidak menjadi begitu mudah karena ternyata Frobisher terjebak cinta dengan istri Ars dan ternyata Ars adalah komposer arogan.

Sekali lagi, narasi terputus, dan berlanjut ke cerita ketiga : “Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery”. Pembaca akan berkenalan dengan Luisa Rey, reporter muda yang kebetulan bertemu dengan Ruffus Sixsmith (masih ingat?) saat lift mereka terjebak. Sixsmith, di tahun 1970-an, adalah profesor tua yang bekerja di sebuah pembangkit nuklir yang ternyata tidak mempunyai standar keamanan dan lingkungan. Pada Luisa, Sixmith menceritakan hal itu semua. Luisa kemudian menyelidiki hal ini, terutama setelah Sixsmith ditemukan tewas tidak wajar. Luisa kemudian mempertaruhkan nyawanya untuk menyingkap kebenaran tentang pembangkit nuklir tersebut dan kematian Sixsmith. Dari Sixsmith, di tempat rahasia yang dibertahukan olehnya, Luisa mendapatkan bukti untuk kasus ini dan (yak benar!) kumpulan surat dari Robert Frobisher. Cerita ini cukup seru dan menengangkan, sehingga ketika cerita ini berhenti di tengah-tengah, saya merasakan kebencian yang cukup mendalam terhadap pengarang. Tapi sementara, karena cerita keempat juga sangat menarik.

Cerita keempat adalah “The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish” : sebuah cerita tentang Timothy Cavendish, publisher kecil-kecilan yang terlibat masalah dengan pengarangnya setelah pengarang tersebut menerjunkan reviewer bukunya dari atap sebuah gedung karena ulasan reviewer itu dinilai menghina. Bagi Cavendish ini berbuah keuntungan, karena setelah kejadian itu, buku pengarang tersebut menjadi laku tapi, ketika kakaknya si pengarang, yang preman, menagih royalti. Cavendish tidak mempunyai uang dan terpaksa harus lari. Saudara Cavendish menawarkan sebuah jalan keluar yang segera disetujui Cavendish. Ternyata Cavendish, tanpa sepengetahuannya, didaftarkan ke sebuah panti jompo nan ketat yang disangkanya adalah sebuah hotel! Hahaha cerita ini memang rame, lucu, dan karakter Cavendish sangatlah unik sehingga sangat enak membaca cerita ini. O ya, dalam kaburnya, Cavendish tidak sengaja membawa sebuah draft novel yang minta diterbitkan : “Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery” karya Hilary V. Hush. Cerita keempat berakhir di tengah-tengah rencana Cavendish untuk kabur dari panti jompo ini.

The Orison of Somni~451 adalah benar-benar cerita yang menyentuh, menakjubkan, dan merupakan cerita favorit saya. Berlatarkan di zaman setelah perang nuklir di masa depan di sebuah benua Nea So Copros yang dulu bernama Korea, cerita ini berkisah tentang Somni~451, wanita hasil kloning yang dibuat untuk menjadi pelayan di sebuah restoran cepat saji Papa Song. Kehidupan sebagai hasil kloning diceritakan dengan jenius. Mereka, selain Somni~451 masih banyak pelayan kloning lain, dicuci otak untuk menganggap Papa Song (yang ternyata cuman karakter holografis) dan dijejali aturan-aturan yang memperbudak mereka.

Sloosa’s Crossing and Everything After adalah cerita penutup buku ini. Kurun waktunya adalah sekian tahun setelah zaman Sonmi di mana manusia sudah tinggal sedikit dan kembali ke perabadaban primitif. Dalam cerita ini Somni muncul kembali sebagai dewi yang dipuja oleh bangsa ini.

Ketika kita membaca cerita ini satu per satu sampai selesai, mungkin kesannya tidak akan sama dengan ketika kita membaca buku ini sesuai urutan yang disajikan pengarang : 12345654321. Kesan yang lain adalah betapa kehidupan manusia bisa saling bersinggungan satu sama lain walaupun terpaut jarak dan zaman. Satu kalimat yang benar-benar membuat saya kagum adalah : “soul cross ages like cloud cross skies”. Terlihat betapa manusia bisa berbeda-beda tapi esensinya adalah sama, seperti awan yang punya bentuk bermacam macam tapi sejatinya adalah uap air. Sungguh buku ini benar-benar menyentuh saya dan sangat dianjurkan untuk dibaca.

4 Comments (+add yours?)

  1. surya
    Dec 29, 2008 @ 00:51:17

    Reply

  2. umi fadilah
    Dec 30, 2008 @ 14:44:30

    oon oon,, kok mulai dari ceritanya si cavendish nampak ga nyambung sama yang sebelum2nya on??

    *gw masi bisa mengerti sampe cerita 1-3,, hehe..

    Reply

  3. Andika
    Dec 30, 2008 @ 21:49:25

    Haa…kok nampak seru sih On…pinjeeeem…

    Reply

  4. harimaubelang
    Jan 05, 2009 @ 15:43:17

    @Andika : kalau mau, pinjem aja di Rumah Buku, gua juga pinjem kok🙂 soalnya nyari di mana-mana ga ada

    @Ume : lupa saya ceritain sih… si Timothy Cavendish muncul di cerita Sonmi dalam bentuk film… dan Sonmi ada di cerita Sloosa’s Crossing sebagai dewi yang disembah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: