In Pursuit of Vanity

Banyak manusia mengejar ke-“agung” –an dalam hidupnya. “Agung” di sini bisa berarti kemewahan, jabatan, prestise, gengsi, dan lainnya. Bahkan, “agung” ini bisa jadi tujuan hidup yang paling penting, satu-satunya yang dikejar dalam hidup ini. Sifat manusia yang mencari “agung” ini sangat tercermin dalam perilaku sehari-hari dan buktinya nampak nyata di sekitar kita : perumahan dinamakan Grand XXX at YYY dengan slogan-slogan : “the blablabla-est residence at yadda yadda yadda“, penyebutan gelar dalam undangan yang harus serba lengkap dan betul tata-tulisnya, belum lagi perilaku orang saat memperkenalkan diri dalam sebuah acara : ada yang lempar kartu nama lah, ada yang “Saya kebetulan baru kembali dari Jerman, kebetulan jadi CIO di uga uga uga Company”, ada juga yang “panggil aja x“.

Sekarang, pertanyaannya adalah apa yang mungkin kita dapat dari ke-“agung”-an ini? Butuh waktu lama bagi saya untuk menjawab pertanyaan ini. Teman? Rasa percaya diri? Kebanggaan? Uang? Kebahagiaan? Duh… dan beribu-ribu lainnya yang muncul di benak saya. Agar lebih adil, mari kita bahas satu per satu.

Teman

Oke, siapa yang “agung” pasti punya banyak teman. Siapa sih yang gak mau berteman dengan orang yang memiliki jabatan, prestise, delele? Nah tapi, temen-temen seperti ini itu ibaratnya orang-orang yang mendekati kamu karena kamu punya payung saat hujan deras. Cuman sementara. Bahkan, ternyata memang ada lho orang yang terobsesi dengan koneksi (kenal atau terlihat kenal dengan orang-orang penting). Bah (nah kan, keluar bataknya) yang kaya begini ini mah bagaikan laron pada lampu… kalau lampunya padam…. beuh… langsung pada gak keliatan tuh laron (ya iyalah kan gelap!!! {bukan, maksud perumpamaannya : cuman deket kalo ada maunya}). Kalau kata orang lampau sih, teman adalah orang yang bersamamu di saat susah. Nah ini, orang dulu aja udah tau.

Rasa percaya diri / kebanggaan (Self confidence / pride) <- relatif sama lah

Hmmmm, ada benarnya juga hal ini bisa memengaruhi percaya diri. Toh, memang banyak orang yang ga pede hanya sekedar disebut nama, tapi harus komplit-plit sama jabatan dan titel-titel lainnya. Banyak juga yang memegang teguh prinsip wiiiiibawa : wiiiii bawa mercy, wiiiii bawa communicator, delele… Akan tetapi, kita tinjau lagi dari asal katanya : rasa percaya diri, rasanya objek yang dipercayai di sini adalah diri, yang, sedekat yang saya tau, adalah manifestasi fisik, mental, dan spiritual wujud kita di dunia. So the self that we are referring to is the being of our existence including inward qualities that we have. Secara intuitif, kata diri lebih mengacu ke dalam dan bukan ke luar. Jadi, kita tidak perlu benda-benda eksternal untuk memupuk rasa percaya diri (apalagi Urea, NPK, TSP beuuuuhhhhhh). Kita harus percaya pada diri kita yang, kata Ebiet G. Ade : telanjang dan benar-benar bersih.

Uang

Nah ini… pretensi bahwa ke-“agung”-an mendatangkan uang adalah benar-benar salah (kalau ala SPMB berarti E : benar benar tidak berhubungan) . Malah sebaliknya : ke-“agung”-an banyak dibeli oleh uang.

Ck Ck Ck. Jadi untuk apa ke-“agung”-an itu? Hanyalah kesia-siaan belaka. Menurut seorang penyair persia jaman dahulu, jaman Saddam Hussein masih gagasan, kira-kira bunyinya begini:

Man’s greatest adversity is having something he doesn’t need while needing something he doesn’t have

Begitu pulalah kira-kira kondisi orang yang telah mencapai ke-“agung”-an dalam hidupnya. Bahkan, dalam perjalanannya menuju ke-“agung”-an, dia meninggalkan apa-apa yang penting dalam hidupnya…. One, in pursuit of Vanity, left behind him all that matter… Sayang sekali….

3 Comments (+add yours?)

  1. ghifar
    Jun 18, 2008 @ 09:44:22

    Baru berkujung ni daku langsung disuguhi bacaan serius, he3,, but menggugah.. :>

    Hi3, bener bgt… bahkan anehnya, orang yang mencari ke-‘agung’-an tuh kebanyakan dilaksanain dengan cara mengejar sesuatu yang sangat tidak ‘agung’ (uang, jabatan, status, dll). klo begitu apa bedanya donk dengan org yang menyembah berhala?? he3..

    Reply

  2. rindang
    Jun 18, 2008 @ 10:59:21

    on,, deelel bukan delele😀

    Reply

  3. harimaubelang
    Jun 18, 2008 @ 11:23:01

    @ghifar : betul far…. malah ini tuh salah satu bentuk penyembahan berhala modern katanya… mudah2an tetap tabah iman… amin…

    @rindang : kalo gua nulisnya de el el lu ga bakal komentar kan ? :-p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: